Kamis, 19 Desember 2013

STROKE



STROKE


A. Pendahuluan
Faktor risiko utama pada penderita tekanan darah tinggi adalah terjadinya serangan stroke. Di Indonesia diperkirakan stroke menyerang 36% lansia di atas 65 tahun meskipun stroke bisa terjadi pada usia berapa pun.
Ada dua macam stroke. Pertama, stroke nonhemoragik, yakni stroke yang terjadi akibat suplai darah berkurang (iskemia) atau terhenti pada sebagian daerah di otak tapi tidak sampai terjadi perdarahan. Kedua, stroke hemoragik, yakni perdarahan pada otak yang terjadi karena dinding pembuluh darah robek (akibat tekanan darah yang tinggi dan mendadak). Kondisi ini mengakibatkan fungsi otak terganggu. Akibat yang lebih parah lagi bisa saja sebagian sel-sel otak penderita mati.
Stroke iskemia (nonhemoragik) itu sendiri ada yang ringan, ada yang sedang. Dikatakan ringan kalau serangan hanya sementara dan akan pulih kembali setelah beberapa puluh menit sampai dua hari. Yang ringan ini terbagi atas transient ischemic attack (TIA) yakni serangan iskemik sepintas (misalnya mendadak tangan dan kaki sebelah terasa kurang tenaga atau kesemutan, tapi selang 15 menit kemudian pulih kembali), dan reversible ischemic neurologic deficit (RIND) yakni hanya terjadi gangguan saraf sementara (misalnya mendadak sulit berbicara namun kesadaran masih penuh, atau kaki dan tangan sebelah mendadak terasa lemah tapi setelah dirawat dua hari pulih total). Kedua serangan stroke terakhir ini memang ringan tetapi penderita harus waspada karena kemungkinan kambuhnya besar.
Fungsi otak memang sangat tergantung pada keadaan aliran darah di otak. Bila suplai oksigen terputus 8 - 10 detik saja, maka akan terjadi gangguan fungsi otak. Bila lebih dari 6 - 8 menit, maka akan terjadi lesi (luka) yang tidak akan pulih alias kerusakan menjadi menetap.
Pulih tidaknya penderita yang sudah terkena serangan stroke, menurut dr. Jusuf Misbach, ahli saraf dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, tentu saja tergantung pada luas tidaknya serangan dan daerah mana yang terkena stroke. Paling fatal bila serangan terjadi pada batang otak, atau timbul perdarahan yang luas sekali sehingga mengganggu pusat kesadaran.
Dikatakan fatal tidak hanya kalau penderita langsung meninggal tapi juga apabila secara sosial ia sudah mati. Artinya, ia tidak lagi berdaya, tidak lagi bisa berkomunikasi ataupun bergerak.
Pemulihan penderita sedikit banyak juga tergantung pada usia. Semakin muda usia kemungkinan pulih semakin besar. Tidak kalah penting, niat dan kesabaran si penderita untuk sembuh. Ia bisa menerima keadaannya dan berusaha untuk tetap bergairah hidup dengan segala kecacatannya.
Langkah pertama bila menghadapi seseorang yang terkena stroke, kita harus secepat mungkin mengambil tindakan. "Jangan menunggu sampai lebih dari tiga jam (baru melakukan tindakan)," kata dr. Misbach. Tim dokter yang menangani harus bekerja secara terpadu, agar tindakan terbaik secepat mungkin dapat dilakukan, apakah perlu dibedah atau tidak. Setelah masa kritis berlalu, masa pemulihan peranannya penting. Usaha dokter, tindakan fisioterapi, gairah hidup si pasien, semuanya ikut mendukung pemulihan penderita (majalah intisari)

B. Sirkulasi Serebral

            Aliran darah normal melalui jaringan otak rata-rata 50-55/100gr otak/mt. Untuk seluruh otak orang dewasa rata-rata ini kira-kira 750ml/mt atau 15 % curah jantung total pada waktu istirahat.
            Seperti dalam kebanyakan jaringan tubuh lain, aliran darah serebralsangat berhubungan dengan metabolisme jaringan otak tersebut, paling tidak tiga macam faktor metabolik telah diperlihatkan mempunyai efek sangat kuat terhadap aliran darah serebral. Ini adalah konsentrasi Co, konsentrasi ion H dan konsentrasi ion O2. Suatu kenaikan dalam konsentrasi Co/ion H dapat meningkatkan aliran darah serebral, sedangkan penurunan konsentrasi O2 meningkatkan aliran darah tersebut.
            Suatu kenaikan konsentrasi Co dalam darah arteri yang memperfusi otak sangat meningkatkan aliran darah serebral oleh reaksi dengan air didalam cairan tubuh untuk membentuk asam karbonat, yang kemudian berdisosiasi membentuk ion H, ion H kemudian menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah serebral , dilatasi tersebut hampir berbanding langsung dengan kenaikan konsentrasi ion H.
            Zat lain apapun yang meningkatkan keasaman jaringan otak dan oleh karena itu yang meningkatkan konsentrasi ion H, juga memperbesar aliran darah. Zat-zat seperti itu meliputi asam laktat, asam piruvat / zat apapun yang bersifat asam yang terbentuk selama proses metabolisme (Guyton, 1978).   







           
           














Tidak ada komentar:

Posting Komentar