STOKE HEMORAGIK
A. Pengertian
Perdarahan otak merupakan penyebab stroke kedua terbanyak
setelah infark otak. Pecahnya pembuluh darah di otak dibedakan menurut
anatominya, yaitu perdarahan intraserebral, pembuluh darah yang pecah terdapat
dalam otak atau pada masa otak, seangkan pada perdarahan subarachnoid, pembuluh
darah yang pecah terdapat di ruang subarachnoid
B. Etiologi
Penyebab stroke hemorhagik adalah hipertensi, perdarahan
subarachnoid oleh karena pecahnya aneurisme, perdarahan intraserebral, kelainan
pembuluh darah (vascular malformation) misalnya terdapatnya angioma.
C. Patofisiologi
1.
Intracerebral Hemorehage
Pada stroke
ini terdapat pendarahan pada parankhim otak
Intra
celebral hemorhage hampir selalu disebabkan oleh penyakit hipertensi setelah
bertahun-tahun dan terus menerus adanya peningkatan stress terhadap tekanan
darah yang tinggi, pembuluh darah kecil diotak mulai membentuk aneurysm. Jika
salah satu aneurysm robek, darah mengalir mengelilingi otak, menghancurkan
jaringan otak dan sekitarnya yang dengan segera menyebabkan peningkatan tekanan
intrakranial.
Rata-rata
pasien yang menderita intracelebral hemorehage lebih muda daripada trombotik
stoke biasanya sekitar usia 50 tahun atau awal 60 an. Symtom biasanya datang
tiba-tiba ketika pasien bangun dan ketika pasien mengedan saat BAB dan
terjatuh.
Pasien
dapat bangun dan dengan kewaspadaan/kesadaran penuh terlihat pertama kali
tetapi biasanya status mentalnya mengalami kemunduran dengan yang cepat dan
kemudian dapat dilihat seluruh tanda dan syrtom mengalami kemunduran dengan
cepat dan kemudian dapat dilihat seluruh tandan dan symtrom dari peningkatan
tekanan intrakranial seperti: kemunduran level kesadaran, hemiplegia, muntah,
dilandasi pupil unilateral, peninggian tekanan darah dengan nadi pelan,
respirasi abnormal/apnea.
Prognosa
pendarah intraserebral sangat buruk, tingkat kematian sekitar 50-80%. Tetapi
ketika 12-24 jam pertama ditangani
dengan baik dapat pulih kembali.
2.
Sub Arachnoid Stroke.
Yaitu
pendarahan yang timbul mengalir ke rongga sub arachnoid.
Sebagaimana
terminologi secara tak langsung berarti pendarahan dirongga sekitar otak,
jadi bukan pada jaringan otak itu
sendiri. Biasanya penyebab pendarahan subarachnoid adalah robeknya aneurysma,
biasanya pada pangkal cabang pembuluh darah didasarkan otak. Ketika aneorysma
tersebut pecah, maka symtom akan muncul sangat tiba-tiba, yang paling umum
adalah sakit kepala yang sangat menyiksa/mengerikan, sakit kepala dapat diikuti
dengan segera oleh mual, muntah, sakit leher dan punggung, comfusion atau koma.
D. Manifestasi klinis
Salah satu ciri dari stroke adalah
timbulnya gejala yang sangat mendadak dan jarang didahului oleh gejala
pendahuluan. Jika disertai gejala pendahuluan, maka gejala yang muncul adalah
serangan iscemik sepintas (TIA). Manifestasi klinis dari stroke sangat
tergantung kepada daerah otak yang terganggu aliran darahnya dan fungsi daerah
otak yang menderita perdarahan tersebut.
1.
Perdarahan intraserebral
- TIA (-)
- Istirahat (-)
- Aktivitas (+)
- Nyeri kepala (+)
- Defisit neurology (+)
- Penurunan kesadaran (+)
- Kaku kuduk (+)
- Tekanan darah bervariasi
- Tes pungsi lumbal seperti cucian daging
2.
Perdarahan subarachnoid
- TIA (-)
- Istirahat (-)
- Aktivitas (+)
- Nyeri kepala (++)
- Defisit neurology (-)
- Penurunan kesadaran (+)
- Kaku kuduk (++)
- Tekanan darah sedang
- Tes fungsi lumbal didapatkan darah segar
E. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
- Lakukan pengkajian dengan cepat : apakah pasien koma, GCS ?
- Periksa dan dokumentasikan tanda-tanda klinis yang didapat termasuk kesadaran, bulu mata, respon verbal, kualitas pernapasan, ukuran dan reaksi pupil dan tanda-tanda vital.
- Gambaran stimulus yang diberikan
- Siapkan catatan nuerologis dan GCS
- Jika pasien tidak sadar
o Kaji
tingkat repon klien : - merespon
perintah/stimulus (sakit)
- buka mata, verbal repon, motor
respon
o Catat
fungsi motorik : kekuatan dan simetris
o Test reflek
batang otak untuk mengkaji disfungsi batang otak
- Ukuran pupil, kesemetrisan,
reaksi terhadap cahaya
- Reflek pergerak mata
o Cek jumlah
pernapasan
o Cek reflek
menelan, reflek tendon
o Monitor
setiap perubahan status neurologis
·
Kaji peningkatan tekanan intra kranial
o Tingkat
respositivitas/kesadaran
o Perhatikan
keadaan lethargi : perlambat respon verbal, berbicara lambat
o Perhatikan
perubahan yang tiba-tiba
o Perubahan
tanda-tanda vital : TD,
Tachycardi, Tachypnea, suhu
o Perubahan
pupil
o Sakit
kepala
o Muntah
proyektil
o Papiledem
2. Diagnosa Keperawatan
a.
Jalan nafas tidak efektif sehubungan dengan obstruksi
jalan nafas bagian atas oleh lidah, ketidakmampuan untuk mengeluarkan seleresi
pernafasan
b.
Perubahan mukosa membran mulut sehubungan dengan
pernafasan mulut, tidak ada reflek paringeal, tidak mampu mengingesti cairan.
c.
Potensial gangguan integritas kulit sehubungan dengan
imobilitas dan gelisah
d.
Perubahan pola eliminasi (inkontinensia dan retensi)
sehubungan dengan keadaan tidak sadar
e.
Potensial pola pernafasan tidak efektif sehubungan
dengan hipoksia cerebral
f.
Perubahan integritas jaringan otak sehubungan dengan
TTIK
g.
Defisit volume cairan sehubungan dengan gangguan
kesadaran, disfungsi hormonal.
h.
perubahan status nutrisi sehubungan dengan peningkatan
basal metabolisme dengan adanya kataboolisme dari kehilangan berat badan.
i.
potensial injuri sehubungan dengan distorientasi dan
gelisah
j.
Perubahan proses-proses berfikir sehubungan dengna
injuri otak
k.
Potensial koping keluarga tidak efektif sehubungan
dengan hasil prognosa yang tidak dapat diduga, perpanjangan masa recovery.
3.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
kasus stroke hemoragik harus dilaksanakan seefektif mungkin dan secepat
mungkin. Hal ini untuk mencegah kecacatan yang tinggi dan kemungkinan kematian
terutama pada saat “Golden Periode” (sekitar 3 jam setelah awitan).
Penatalaksanaan meliputi reveral ke pelayanan emergensi sedini mungkin, jika
diperlukan mungkin tindakan resusitasi jantung pulmoner, depibrilasi dan
perawatan lebih lanjut. Langkah-langkah tersebut meliputi :
a. Detection (pengenalan gejala secara dini)
Penanganan
dini dari penderita stroke tergantung dari pasien dan anggota keluarga atau
orang lain disekitarnya. Hal ini berkaitan bagaimana anggota keluarga mengenali
gejala dari stroke sehingga mereka dapat cepat merujuk ke unit pelayanan
emergensi terdekat, sehingga penderita dapat tepat waktu untuk dapat
penanganan.
b. Dispacth (kontak dengan unit emergensi)
Penderita
stroke ataupun anggota keluarga yang lain harus dapat memahami prosedur
penatalaksanaan emergensi, seperti menghubungi emergensi secepatnya dan
menanyakan tindakan pertama apa yang dapat dilakukan sehingga petugas emergensi
dapat memberi petunjuk tentang bantuan hidup dasar seperti pengelolaan jalan
nafas, pengaturan posisi pasien dan bantuan nafas sementara petugas emergensi
sedang dalam perjalanan.
c. Delivery (pengiriman pasien ke unit
emergensi)
Tujuan
tindakan sebelum sampai ke rumah sakit atau dalam perjalanan ke rumah sakit
pada pasien stroke adalah identifikasi secara cepat tanda dan gejala yang
muncul, mempertahankan fungsi vital tubuh, merujuk secara cepat ke unit
pelayanan. Petugas haruslah yang sudah terlatih dalam mengenali dan menangani
stroke.
d. Door (triage di unit emergensi)
Ketika
pasien stroke tiba di unit emergensi maka harus segera mendapat penanganan dan
pemeriksaan dasar sebelum mendapatkan konsultasi neurology yang tepat. Idealnya
unit emergensi mempunyai team penanganan stroke atau stroke unit unyuk
mengelola personel dan peralatan yang dibutuhkan, evaluasi pasien dan merawat
pasien seefisien mungkin.
e. Data (evaluasi dan management perawatan
emergensi)
Data dengan
sistem ABC sangat diperlikan dalam merawat pasien stroke. Jalan nafas dan
masalah pernafasan lain merupakan masalah yang sering muncul pada pasien stroke
terutama pasien dengan penurunan kesadaran. Ketika pasien tiba di unit
emergensi maka ABC mutlak harus dikaji ulang dan di cek sesering mungkin.Selain
itu data pemeriksaan neurologis harus segera dilaksanakan dan termasuk data
dari keluarga. Data pengkajian stroke harus difokuskan pada empat hal yang
menjadi kunci, yaitu :
-
Tingkat kesadaran
-
Tipe stroke
-
Lokasi stroke
-
Tingkatan stroke
Selain
pengumpulan data, juga dilakukan penatalaksanaan gejala yang mungkin timbul,
seperti penanganan kejang, hipotensi atau hipertensi, cardiac arest, penanganan
gula darah jika ada indikasi. Hal lain yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan
diagnostik meliputi : CT Scan, pemeriksaan darah, cervical X ray, MRI atau
angiografi.
f.
Decision (potensial pemberian terapi umum)
Secara umum, pemberian therapy yang
diberikan adalah :
-
Pemberian oksigen yang adekuat
-
Pemberian jalan nafas
-
Koreksi gangguan faal jantung jika ditemukan aritmia
-
Pemberian cairan intravena seperti ringer laktat atau
normal salin
-
Penanganan gula darah
-
Pemberian antipiretik jika panas
-
Pemberian antikonvulsan jika kejang
-
Penanganan hipertensi jika TD sistolik >180 mmHg,
diastol >100 mmHg atau MAP >130 mmHg
-
Pencegahan peningkatan tekanan intrakranial
-
Jaga kebersihan kandung kemih
g. Drugs (terapi khusus)
Pemberian ini jika disertai iskemik jaringan otak
Adapun
penanganan secara umum harus didaraskan pada prinsip meliputi :
1.
Airway (jalan nafas)
Paraliysis
otot tenggorokan, lidah atau mulut secara sebagian atau seluruhnya dapat
menyebabkan sumbatan pada saluran nafas bagian atas. Selain itu saliva yang
banyak dan terjadinya muntah meningkatkan resiko aspirasi. Suction diperlukan
untuk mengurangi obstruksi itu. Jalan nafas juga dapat dibantu dengan
pemasangan orofaringeal atau nasifaringeal tube. Sedangkan pemberian oksigen
diberikan jika pasien memerlukan. Obstruksi tracheal dan bronchial dapat
terjadi pada pasien stroke hemoragik sehingga paramedis harus membantunya
dengan intubasi endotracheal jika penanganan dasar tidak membantu, terutama
pada pasien koma.
2.
Breathing
Gangguan
pola nafas terjadi pada pasien dengan stroke berat dan kadang sering memerlukan
bantuan nafas. Respirasi abnormal dapat terjadi pada pasien koma dan cedera
otak serius ditandai dengan respirasi ireguler termasuk apneu, chynes stoke
atau hiperventilasi neurogenik. Dapat pula terjadi respirasi dangkal atau
pertukaran udara tidak adekuat yang disebabkan paralysis otot pernafasan.
Bantuan nafas, pengaturan ventilasi sangat diperlukan walaupun kemungkinan
keberhasilannya kecil.
3.
Circulation
Cardiac
arest merupakan masalah masalah komplikasi yang umum terjadi dan selalu diikuti
gagal nafas. Pada kasus ini diperlikan tindakan kompresi dada. Gangguan
kardiovaskuler seperti hipertensi bukan masalah utama yang harus ditangani.
Penanganan hipertensi hanya dilakukan di unit emergensi apabila tekanan darah
dapat dipantau terus. Yang penting adalah pemantauan tekanan darah dan irama
jantung. Selain itu untuk mencegah odem serebri diperlukan cairan hipertonis
seperti mentol 20 % juga penggunaan terapi lain
DAFTAR PUSTAKA
Andradi, 2000,Penatalaksanaan Stroke Pase Akut,FK
UNPAD, Bandung.
Bruner,
Sudath, 1997, Textbook of Medical Surgical Nursing, sixth edition, Lipincot,
Philadelphia.
Misbach, 1999, Stroke ; Diagnostik, Patofisiologi,
Manajemen, FK UI, Jakarta
Suhana, 2000, Manifestasi Klinis Stroke, FK UNPAD,
Bandung
...........,
1997, Advanced Cardiac Life Suport ; Fighting Heart Disease and Stroke, Amercan
Heart Asociation, Philadelphia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar